⭐ KEMENAG SUMSEL LUNCURKAN AIOHUMAS VERSI 3.0: LAYANAN LEBIH HUMANIS & BEREMPATI ⭐ KEMENAG BUKA PENDAFTARAN KEBERADAAN PESANTREN 1 JANUARI 2026 ⭐ PENDAFTARAN SELEKSI NASIONAL MURID BARU PADA MADRASAH UNGGULAN DIBUKA HINGGA AWAL FEBRUARI 2026 ⭐ KEMENAG SUMSEL LUNCURKAN AIOHUMAS VERSI 3.0: LAYANAN LEBIH HUMANIS & BEREMPATI

Search

Iman, Akhlak, dan Ibadah

Iman, Akhlak, dan Ibadah

Oleh: H. Hasbi Mustofa, S.Ag., M.Si., M.Si.

Penyuluh Agama Fungsional Kankemenag Kota Lubuklinggau

Bertakwa kepada Allah SWT dengan mengabdikan diri dan meningkatkan keta’atan kepada-Nya sudah barang tentu kita akan menyadari bahwa umur kita selama ini dari hari ke hari bukanlah malah bertambah, tetapi malah sebaliknya semakin berkurang, berkurang dan terus berkurang hingga datangnya ajal. Ini berarti kesempatan kita untuk memperbanyak amal shaleh semakin sedikit dan akan habis, sedangkan perbuatan dosa semakin bertambah dan terus bertambah tanpa ada penyesalan.

Di dalam sya’ir disebutkan, “Engku tetap hidup dalam kelengahan dan hatimu lupa, hilanglah umurmu sedang dosa-dosamu tetap seperti keadaannya”. Dengan demikian setiap kewajiban yang dilakukan dan setiap larangan yang ditinggalkan, tidaklah dilakukan kecuali semakin menguatkan dan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah, serta melahirkan nilai-nilai mulia dalam kehidupan. Suatu perbuatan dan amal kebajikan yang terlahir dari ketakwaan akan memberikan manfa'at yang besar dalam kehidupan. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya.” (HR Ahmad).

Hadits di atas menerangkan bahwa dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan mengerjakan amalan yang baik dan benar. Dosa yang sudah berjangkit di kalangan masyarakat sangatlah banyak dan mereka menganggapnya itu hal biasa dan lumrah. Hal yang demikian tidak bisa ditinggalkan karena gunung yang begitu besar terdiri dari kerikil-kerikil yang kecil. Jika dosa kecil ditumpuk maka akan menjadi besar seperti gunung juga.

Semestinya kita harus pandai memanfaatkan kesempatan sebelum kesempatan itu habis direnggut maut. Isilah kesempatan itu untuk beramal shaleh. Jangan ada di antara kesempatan yang hilang percuma, atau berlalu dengan sia-sia. Jangan suka menunda-menunda sesuatu yang akan kita kerjakan. Kalau kita menunda-menunda sesuatu berarti kita menyia-nyiakan waktu. Ingatlah kita dengan firman Allah, artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS Al-A’raf: 34).

Kematian adalah ketentuan yang pasti yang akan dialami setiap orang, siapa saja tak akan mampu menghindari kematian, sekalipun dia telah berusaha menghindarinya. Namun anehnya banyak umat manusia yang melalaikan kematian, seolah-olah hal itu tidak akan terjadi. Mereka tenggelam dalam kemewahan dunia semesta, tanpa memperdulikan kehidupan akhirat yang abadi, sehingga mereka berbuat seenaknya sendiri dengan menuruti kehendak hawa nafsunya.

Mereka sudah tidak lagi mengisi kesempatannya dengan amal shaleh, tetapi justru sebaliknya kesempatan-kesempatan diwarnai dengan berbagai kemaksiatan. Semestinya mereka harus menyadari bahwa kematian itu pasti datang dan kedatangannya tak seorangpun yang tahu dan mengerti. Bisa saja kematian itu menimpa seseorang yang masih mudah belia, bahkan terjadi pada seseorang yang di waktu sore masih kelihatan sehat tetapi di pagi harinya dia meninggal mendadak. Tegasnya kematian pasti datang dan datangnya tak terduga-duga sebelumnya.

Karena itu marilah kita isi kesempatan dengan amal shaleh untuk mencari keridhaan Allah SWT. Karenanya Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya, “Jagalah lima perkara sebelum tertimpa lima keadaan, jagalah masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu, jagalah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, pergunakanlah masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, jagalah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan jagalah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.”

Dalam hadits tersebut Rasulullah secara tegas menganjurkan kepada kita agar benar-benar memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin dengan memperbanyak amal shaleh. Sebab jika kesempatan itu kita abaikan tentu akan hilang percuma saja. Pertama, mumpung masih hidup gunakanlah untuk giat beribadah jangan kita menunda-nunda sehingga datang masa maut menjemput. Sebab kematian itu menyebabkan putusnya amal.

Kedua, sewaktu badan kita masih sehat gunakan untuk memperbanyak amal shaleh, jangan kita menunda-nunda menunggu datangnya sakit yang menyebabkan orang susah beribadah. Ketiga, masa luang kita, yaitu masa hidup kita di dunia adalah suatu kesempatan untuk mengumpulkan bekal yang kita dapat sebagai buah yang akan kita petik kelak di hari kemudian. Kesempatan itu jangan kita tunda-tunda sehingga datang hari kiamat yang pada hari itu setiap orang sibuk memikirkan diri sendiri untuk menghadapi hisab (penelitian amal).

Keempat, sewaktu masih mudah berarti sewaktu masih dapat melangkah jauh untuk berbuat sesuatu hendaknya diisi dengan amal shaleh, jangan ditunda-tunda sehingga datang masa tua yang membut seseorang berkurang fungsi-fungsi organ tubuh, pendengaran dan penglihatan semuanya berkurang ketajamannya. Dan kelima, sewaktu masih kaya, hendaklah giat bersedekah, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, berderma untuk kemashlahatan pendidikan, dan lain sebagainya. Gunakanlah kesempatan itu sebaik mungkin mumpung belum datang kemiskinan yang dapat menghambat orang untuk giat bersedekah dengan harta benda yang kita miliki sekalipun harta itu kita cintai.

Sesungguhnya dunia ini adalah ladang tempat kita menanam amal, yang hasilnya kita petik di akhirat nanti. Siapa yang berbuat baik di dunia, tentu akan memperoleh pahala dari sisi Allah, dan siapa yang berbuat jahat, maka Allah akan membalasnya dengan siksa. Sebagaimana firman Allah, artnya: ”Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan." (QS Al-Jaatsiyah: 22).

Semoga dengan ayat-ayat tersebut di atas akan menggugah semangat kita untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan dalam memperbanyak amal shaleh. Bertaubatlah kepada Allah dan berdzikirlah sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikanlah shalat sebagai kebutuhan dalam kehidupan agar kita yang mendirikannya selalu mendapatkan kesehatan, kuat jiwa dan raga. Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Editor: Amrullah Madina, S.Ag., M.M


Kategori: bimasislamsumsel

e-Saran
Bantu Kami Berkembang
AIOHUMAS
Tanyo AIOHUMAS