Oleh : Amrullah Madina, S.Ag., M.M
Pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Lubuklinggau
Setiap hari kita mendengar dan melihat berita kematian. Berita itu mesti menjadi nasehat dan pengingat diri. Selanjutnya kita harus tahu diri dan tidak boleh lupa diri. Pada akhirnya yang diharapkan adalah agar kita sadar diri. Kalau kita sadar diri bahwa kematian itu sesuatu yang pasti, maka mari kita persiapkan diri menjelang kematian atau ajal kita tiba. Teladan kita, Rasulullah Muhammad SAW telah mengingatkan: “Cukuplah kematian sebagai nasehat.” (HR ath-Thabrani, al-Baihaqi). Lantas apa yang mesti kita lakukan? Jawabannya, sesegera mungkin kita giatkan amal kebajikan.
Namun dalam kenyataannya, masih banyak orang-orang di sekeliling kita yang tidak sadar diri seolah-olah dia akan hidup selamanya. Padahal hidup di dunia bagaikan orang yang dalam perjalanan kemudian berhenti sejenak untuk mampir minum. Hidup di dunia ini hanya sementara bro! Jangan berlagak sombong lho! Jauh sebelum pandemi Covid-19 datang ke muka bumi ini, kematian sudah ada dan senantiasa menanti. Tidak pantas kita mengejar dunia yang fana ini. “Kejarlah akhirat, dunia akan kau dapat”, itu pilihan yang tepat.
Dekati Kematian
Pada saat usia bertambah, hakikatnya kita semakin mendekati kematian atau semakin dekat dengan liang kubur. Atau kontrak hidup kita di dunia semakin berkurang, jangan sampai kita justru berleha-leha. Update Corona Global pada tanggal 12 Juli 2021, total kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia sebanyak 4.048.856 jiwa. Itu belum termasuk data kematian akibat penyakit-penyakit lain dan kematian tanpa gejala penyakit. Berarti orang yang sakit biasa, atau sakit karena Covid-19, atau juga tidak sakit bila saatnya ajal akan menjemput.
Berpedoman pada beberapa ayat Al-Qur’an bahwa setiap jiwa akan mati (QS Ali Imran: 185), setiap yang di bumi akan binasa (QS Ar-Rahman: 185), mati tidak mengenal tempat (QS An-Nisa’: 78), dan kita tidak bisa lari dari kematian (QS Al-Jumu’ah: 8). Kesimpulannya, kita bakal mati. Kalau demikian adanya, kita mesti bersyukur karena Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan hidup di dunia ini. Lantas kita diajarkan untuk membaca do’a bangun tidur, Alhamdu lillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihinnusyur: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita kembali setelah mematikan (sejenak dalam tidur), dan kepada-Nya kita akan kembali. Saat tidur, hakikatnya kita mati. Allah tahan ruh kita, lantas Dia kembalikan lagi kepada jasad kita.
Untuk itulah sejak bangun tidur, melakukan aktivitas, hingga kita tidur kembali, semuanya tetap berada dalam koridor aturan syari’ah Islam. Malaikat Jibril pernah mengingatkan Rasulullah SAW, “Wahai Muhammad hiduplah sesuka hatimu, namun (ingat) engkau bakal mati.” Pesan tersebut mengingatkan diri kita untuk tidak berbuat semena-mena.
Tugas Manusia
Dalam menjalankan amal kebajikan atau biasa disebut ‘amal shalih, manusia megemban tugas ganda di muka bumi ini, yaitu hamba Allah (‘abdullah) dan wakil Allah (khalifatullah). Tugas pertama, sebagai hamba Allah untuk menjalani proses pengabdian diri dengan menyembah hanya kepada-Nya, dan menjauhi perbuatan syirik. Pengabdian berupa ibadah yang kita jalankan harus berlandaskan keikhlasan. Kalimat Tauhid, La ilaha illallah wahdahu la syarika lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wa huwa ‘ala kulli syain qadir harus selalu terpatri dalam setiap jiwa-kalbu kita. Tuhan kita hanya Allah. Tuhan kita Esa. Tuhan kita tidak bersekutu. Tuhan kita memiliki kekuasaan dan pujian. Tuhan kita Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Dan Tuhan kita Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Keyakinan-akidah kita harus mantap, kokoh, teguh, dan tak tidak boleh goyah oleh apapun dan siapapun juga. Tidak ada lagi yang mesti kita khawatirkan dan tidak ada lagi yang perlu kita cemaskan, apalagi sampai kita gelisah. Wabah virus Corona yang melanda seluruh negeri di dunia saat ini menjadi salah satu ayat-ayat Allah. Mestinya semakin menguatkan akidah-keyakinan kita: selalu bersandar pada-Nya, yakin wabah Corona akan berakhir dengan izin Allah SWT. Namun demikian, kita mesti berikhitiar agar tidak tertular wabah Covid-19. Protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah harus kita patuhi. Corona telah mengajarkan kita banyak hal: hidup bersih, tertata rapi, dan teratur sebagai upaya preventif terhindar dari penyakit.
Kemudian tugas kedua, sebagai wakil Allah, dimana manusia mengemban amanat yang amat berat. Yaitu mengimplementasikan sifat-sifat ketuhanan/keilahian di muka bumi. Manusia harus memakmurkan bumi yang membentang luas ini dan dilarang untuk berbuat kerusakan. Allah memiliki sifat Rahman dan Rahim yang patut dicontoh oleh manusia untuk menebarkan kasih sayang antar sesama. Corona membangkitkan semangat untuk saling berbagi dan tolong menolong. Tidak boleh seenak-e dewe. Kita ini hidup bersama bro!.
Dengan memahami dua tugas manusia yang mulia itu, mari ajak keluarga kita untuk mengikuti hidayah Allah: jalan lurus yang menyelamatkan hidup di dunia dan akhirat. Seruan Allah buat kita,“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (QS At-Tahrim: 6). Di dunia ini kita masih bisa dan memiliki kesempatan untuk saling mengingatkan dalam melakukan amal kebajikan. Namun di akhirat kelak, kita akan berjalan sendiri-sendiri dan disibukkan dengan urusan masing-masing. Saat itu, tidak ada urusan dengan amal orang lain. Penegasan Allah dalam Al-Qur’an, artinya: “Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong.” (QS Al-Baqarah: 48), juga “Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya,” (QS Al-Ma’arij: 10). Patut menjadi pembelajaran, kisah Nabi Nuh as beserta isteri dan anaknya Kan’an, dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 42 sampai 46 menunjukan usaha yang maksimal dari seorang ayah selaku pemimpin dalam mengajak keluarganya untuk mengikuti jalur amal kebajikan, namun ternyata keduanya menentukan jalan sendiri.
WFH Produktif
Tidak ada kata berhenti dalam melakukan amal kebajikan. Di masa pandemi Covid-19, pemerintah mencanangkan kerja dari rumah (Work From Home/WFH) namun tetap produktif. Diantara tujuannya untuk menjaga kesehatan masyarakat dengan menghindari kerumunan sehingga tidak tertular wabah Corona yang saat ini muncul varian baru. Bahasan mengenai kematian ini bukan untuk mengendorkan semangat kita, tetapi justru untuk menguatkan tekad kita dalam melakukan amal kebajikan walaupun dilakukan dari rumah.
Kreatifitas dan inovasi menjadi hal penting untuk kita lakukan menghadapi musibah saat ini. Kita tidak boleh larut dalam kemalasan. Adanya Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menunjukkan pemerintah masih peduli dan perhatian kepada kita selaku rakyatnya. Memang setiap kebijakan pasti membawa konsekuensi yang harus ditanggung. Namun itulah pilihan yang sulit untuk kita jalani bersama. Yuk, kita segera beramal, bekerja produktif yang membawa kemaslahan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa (baca: QS At-Taubah: 105).
Mari kita tingkatkan amal kebajikan dengan berlandaskan iman. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran menjadi solusi Ilahiyah yang sangat jitu untuk kita terapkan. Giatkan, jangan tundah lagi. Selain iman, tingkatkan juga imun agar kita mampu menolak virus yang akan masuk ke dalam tubuh. Mulai saat ini, vaksinkalah diri kita dengan membaca dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an, maskerlah mulut kita dengan banyak berzikir kepada Allah, cucilah tangan kita dengan banyak bersedekah, dan jagalah jarak kita dari perbuatan maksiat. Insya Allah, hidup kita selamat dunia akhirat. Luruskan niat kita menghadapi Hari Raya Idul Adha 1442 H, semoga Allah menyehatkan dan menguatkan jasmani-rohani kita, Amin. Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Disadur dari bahan Khutbah Jum’at di Masjid Mustaqim Kel. Tapak Lebar Kec. Lubuklinggau Barat I Kota Lubuklinggau, Jum’at, 9 Juli 2021 M / 28 Dzulqa’dah 1442 H