Saudaraku,
Sesungguhnya dalam setiap desahan nafas, detak jantung, kedipan mata, di sana mengalir berjuta kenikmatan dari sisi Allah Azza wa Jalla kepada setiap hamba-Nya...
Saudaraku,
Marilah kita merenung sejenak betapa melimpah nikmat yang telah Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita mensyukuri semua nikmat yang dikaruniakan-Nya itu. Karena bersyukur berarti mempertahankan nikmat. Namun sayang, ada dari kita setelah dianugerahi limpahan berbagai macam nikmat dan kemudahan serta kelapangan oleh Allah Azza wa Jalla berubah menjadi kufur, sombong dan lalai. Inilah yang dapat mengubah nikmat menjadi adzab...
Bila ada yang bertanya, “Benarkah nikmat dapat berubah menjadi adzab?” Maka jawabannya, benar. Sebab hal itu sangat mungkin bisa terjadi. Maka hendaknya setiap Muslim senantiasa berdoa, seperti doa yang diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam,
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat, dari adzab yang datang tiba-tiba, berubahnya keselamatan yang diberikan oleh-Mu dan dari semua kemurkaan-Mu.”
(HR. Muslim)
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan kesenangan dengan nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki; bila mereka tidak bersyukur, maka Dia akan membalikkannya menjadi adzab.”
Ulama salaf lain seperti Abu Hazim rahimahullah juga pernah berkata, “Setiap nikmat yang tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, maka ia adalah adzab.”
Saudaraku
Sungguh, kenikmatan yang Allah Azza wa Jalla limpahkan kepada setiap hamba-Nya begitu banyak, sampai-sampai tak seorang pun yang mampu untuk menghitungnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Bahkan apabila seluruh lautan terhimpun menjadi tinta untuk menuliskan nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla, niscaya air laut itu akan habis sebelum tertuliskannya semua nikmat-Nya. Sebagaimana halnya air lautan yang akan habis terlebih dahulu saat dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla, meskipun didatangkan tambahan lautan tinta sebanyak itu pula. Hal ini sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla,
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
“Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai penulisan kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.”
(QS. Al-Kahfi: 109)
Nikmat bisa berubah menjadi adzab dan bencana. Kemenangan bisa berubah menjadi kekalahan. Kegembiraan bisa berubah menjadi kesedihan bila kita tidak mensyukurinya, mengundang murka Allah Azza wa Jalla di mana akhirnya mengakibatkan nikmat yang diperoleh berubah menjadi adzab...
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa pandai bersyukur atas anugerah segala kenikmatan dari Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya...
Aamiin Ya Rabb.
Wallahua'lam bishawab
Penulis: Drs. H. Budiman, M.Pd.I