Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Pada bacaan Injil Hari Minggu Biasa ke XXII ini, Yesus mengajarkan sikap dan sifat antara kerendahan hati versus meninggikan diri yang dijelaskan dengan sangat epic sekali melalui perumpamaan Pesta Perkawinan.
Sebelumnya pada ay.1 disebutkan bahwa “Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.”
Kata Farisi dari bahasa Ibrani P?r?š?m yang berarti orang yang dipisahkan atau orang yang menjelaskan. Orang Farisi memiliki kemampuan luar biasa dalam menafsirkan Torah dan memahami konteksnya. Orang Farisi juga dikenal dengan sikap yang kaku dan tidak fleksibel dalam penafsiran hukum, terutama dalam hal ritual dan etika.
Selain itu orang Farisi sebagai individu dan sebagai kelompok memegang otoritas keagamaan. Sehingga orang Farisi memiliki prestise dan menikmati gaya hidup yang cukup istimewa yang kemudian berkembang menjadi arogan dan menekankan formalitas berlebihan yang mensyaratkan detail-detail seremonial sampai mengabaikan ketentuan hukum moral yang lebih penting yaitu hukum yang berlandaskan kasih dan keadilan. Sifat orang farisi yang munafik, legalitas yang kaku dan sikap tidak bersahaja inilah yang sering kali dikecam oleh Yesus.
Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka (ay.7). Kata perumpamaan berasal dari bahasa Yunani Parabol? yang berarti kisah atau cerita sederhana yang digunakan untuk mengajarkan, menarik perhatian, dan membantu pemahaman lebih mendalam tentang kebenaran rohani atau moral.
Bunyi perumpamaan tersebut yaitu: ketika seseorang diundang ke pesta, sebaiknya mereka duduk di tempat yang paling rendah (ay.10), mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebaliknya jika engkau datang ke pesta perkawinan dan langsung duduk ditempat yang terhormat sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu (ay.8), lalu saat engkau duduk ditempat terhormat, tuan rumah yang mengundang engkau dan dia datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi dan duduk di tempat yang paling rendah (ay.9).
Yesus mengajarkan bahwa orang yang merendahkan diri akan ditinggikan, sedangkan orang yang meninggikan diri akan direndahkan. Merendahkan diri hendak menyatakan suatu nilai kerendahan hati seseorang yaitu ketika seseorang mengakui kesalahan, menerima masukan, memberikan apresiasi pada orang lain, berbicara dengan hormat, dan menerima bantuan dari orang lain.
Seseorang yang rendah hati juga cenderung tidak segan meminta bantuan, mudah mengucapkan terima kasih, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mendahulukan kepentingan orang lain, mampu mengendalikan ego. Sebaliknya meninggikan diri yaitu suatu tindakan atau sikap yang melibatkan pengakuan dan peningkatan harga diri seseorang. Tidak jarang, beberapa orang bahkan melebih-lebihkan dirinya agar bisa meninggi. Segala kelebihan dan pencapaian yang dimiliki, seolah harus diketahui oleh orang lain, sifat sombong atau arogan.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang mungkin merasa senang atau cenderung meninggikan diri sendiri yaitu pertama dan utama yaitu karena memiliki kepercayaan diri yang kuat. Mereka memiliki keyakinan dalam kemampuan, kualitas, dan potensi diri yang dimiliki. Mereka merasa bahwa dirinya jauh di atas orang lain, serta memandang rendah orang lain.
Kedua lingkungan sosial, karena pergaulan sehari-hari dengan orang-orang yang selalu meninggikan diri maka terpengaruh dengan lingkungan. Bahkan menjadi suatu kebanggaan yang berlebihan dengan menyatakan bahwa lingkungannya lebih baik dibandingkan dengan yang lain.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Injil Lukas hendak menekankan bahwa keselamatan yang dibawa oleh Yesus tersedia bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan. kasih Allah yang mencakup semua orang, tanpa memandang status sosial atau kelompok tertentu. Contoh bagaimana kasih Allah menyentuh orang yang dianggap pendosa, kemaharahiman dan pengampunan Allah, keberpihakan terhadap orang kecil, kasih Allah bersifat universal dan tak dapat dibatasi oleh status, suku, asal-usul, berbeda pemahaman dengan orang-orang Farisi.
Oleh karena itu, Yesus pernah mengatakan dalam Matius 23:3 "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka (orang Farisi) ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya."
Lalu sifat dan sikap apakah yang diharapkan oleh Allah kepada kita? Pada ay.13-14 Yesus menyatakan, “Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”
Yesus mengajarkan bahwa kasih sejati memberi kepada yang membutuhkan, bukan karena ada keuntungan yang bisa diperoleh. Dengan mengundang mereka yang terpinggirkan, maka mengangkat martabat mereka dan menekankan bahwa semua manusia berharga di mata Tuhan, tidak peduli status sosial atau kondisi fisik mereka.
Yesus mengarahkan pengikut-Nya untuk mencari pahala kekal, bukan pujian atau balasan dari manusia. Mengundang orang miskin yang tidak bisa membalas adalah bentuk amal sejati yang akan dibalas oleh Allah sendiri. Inilah gambaran tentang undangan Allah kepada semua orang, termasuk yang hina di mata dunia, untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Kerajaan Surga terbuka bagi mereka yang rendah hati dan mau menerima kasih karunia Allah. Mengundang mereka yang lemah dan miskin adalah tindakan yang mencerminkan hati Allah sendiri, yang peduli pada mereka yang tersisih dan terluka.
Semoga Tuhan menjamah hati kita dan memelekkan mata kita, membuka telinga kita agar melihat kebaikan Allah dan untuk terus mendengar Sabda Allah dan melakukan tindakan kasih Allah, supaya kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. Tuhan memberkati. Amin.
Sandra Mariyus Adipa (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Kalimantan Tengah)