Judul ini sengaja berupa pertanyaan. Tujuannya mengajak kita berpikir kritis, benarkah pahlawan hanya mereka yang berjuang di medan perang? Dulu dan juga saat ini, gelar pahlawan diberikan kepada mereka yang berjasa besar bagi bangsa, pejuang kemerdekaan, atau penjaga kedaulatan negeri.
Tentu, jasa mereka tidak ternilai. Kita akui. Mereka adalah teladan sejarah. Namun, semangat kepahlawanan sejatinya tak hanya milik mereka. Setiap orang bisa menjadi pahlawan, sesuai konteks dan perannya masing-masing. Medan juang demikian luas. Sepanjang masa.
Kita sering mendengar istilah guru adalah "pahlawan tanpa tanda jasa". Betapa besar peran guru. Ia mencerdaskan, membentuk karakter, dan menyiapkan generasi masa depan. Dari tangan guru lahir calon-calon pemimpin bangsa. Mereka mengajar dengan dedikasi tinggi, bahkan sering tanpa imbalan sepadan. Itulah jiwa pahlawan sejati.
Begitu pula ayah dan bunda. Mereka pahlawan keluarga. Siang dan malam bekerja, berjuang demi anak dan masa depan serta marwah keluarga. Mereka memegang nilai kepahlawanan dengan ikhlas, bekerja tanpa pamrih, menjaga kehormatan keluarga di tengah godaan hidup yang berat.
Lihat pula pedagang kecil di pasar. Mereka bangun jam tiga dini hari, menjajakan dagangan demi rezeki halal. Belanja bahan dagangan dengan segala keterbatasan. Tidak bergantung pada orang lain, tetap tegar di tengah kerasnya hidup. Tak peduli terhadap cacian tetangga atau orang lain. Semangat itu adalah bentuk lain dari kepahlawanan.
Begitu pula pemadam kebakaran. Mereka berlari menuju kobaran api saat orang lain menjauh. Saat kebanyakan manusia berhenti berhatap. Jiwa mereka ditempa keberanian dan pengorbanan demi keselamatan sesama. Harapan orang lain menjadi tumpuan tekad demi menolong orang lain, meski resikonya cukup besar.
Atlet pesepak bola atau lainnya yang mengharumkan nama bangsa juga pahlawan. Mereka berjuang membawa bendera negeri di kancah dunia. Di dadanya ada semangat berkobar yang tercetak simbol burung garuda. Begitu pula dosen dan mahasiswa yang berprestasi di berbagai event bergengsi telah membuktikan bahwa perjuangan intelektual pun adalah bentuk kepahlawanan.
Jangan lupakan pekerja migran di luar negeri. Membanting tulang. Kepala menjadi kaki, dan kaki menjadi kepala. Berjibaku mencurahkan bakti. Mereka meninggalkan tanah air, anak, dan keluarga demi mencari nafkah halal. Di negeri nan jauh, mereka berjuang menjaga martabat diri dan menghidupi keluarga. Itu bukan pengorbanan kecil kawan!
Semua dari mereka menunjukkan ketangguhan mental dan keikhlasan hati. Kesungguhan aksi nyata. Mereka berbuat nyata untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa. Itulah esensi kepahlawanan, tanggung jawab, kesabaran, keikhlasan dan memberi manfaat bagi orang lain.
Jadi, setiap kita sejatinya bisa menjadi pahlawan. Tak perlu pangkat, gelar, atau pertempuran. Tak harus memanggul senjata atau podium dengan suara yang menggelegar. Cukup hati yang tulus, tekad kuat, dan tindakan nyata, berdampak. Pahlawan sejati hadir dalam keseharian, di ruang kelas, di dapur, di pasar, di kantor, di jalanan, bahkan di negeri orang sekalipun.
Menjadi pahlawan tidak harus menunggu keadaan genting. Tidak perlu menunggu panggilan sejarah. Apalagi menunggu perang dunia ketiga. Cukup lakukan kebaikan, kapan pun dan di mana pun. Dengan niat tulus, sikap terpuji, dan aksi konkrit, kita semua bisa memberi arti.
Mari tumbuhkan semangat kepahlawanan di hati kita. Bumbui semangat aksi, karena Allah atau Tuhan. Tanpa berharap pujian dari makhluk. Jadilah pahlawan di peran masing-masing. Singsingkan lengan baju, tangan terkepal, maju kemuka. Berbuat nyata untuk sesama, dan alam raya. Ingat, jangan pernah sekalipun, jadi pahlawan kesiangan. Kenapa? Karena anda tidak akan bisa menikmati indahnya mentari pagi. Wallahu A’lam.
sumber: https://kemenag.go.id/opini/akankah-setiap-kita-bisa-menjadi-pahlawan-QUsx4
Thobib Al Asyhar (Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenang, Dosen pada Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia).