Kamis, 2 Maret 2017, 14:16

Siapa Bilang Hukum Nikah Cuma Sunnah?

Oleh : Abdul Rahman, M.H.I (Penghulu KUA Kec. Lubuklinggau SelatanI)

Banyak orang beranggapan bahwa hukum menikah itu hanya satu yaitu sunnah. Pendapat ini tidak lah salah karena memang ada dalilnya. Sebagaimana hadits Rasul menyebutkan bahwa Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !(HR. Ibnu Majah). Namun ternyata para ulama dalam membahas hukum pernikahan, tidak hanya menjadi sunnah saja (mandub), terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja.

Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan. Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi, mari kita bedah hukum menikah satu persatu. Hukum pertama yaitu Wajib. Nikah menjadi wajib hukumnya bagi mereka terpenuhi dua syaratnya, yaitu dikhawatirkan jatuh ke dalam zina dan seorang yang sudah mampu secara finansial.

Orang yang sudah mampu saja sudah dikategorikan sebagai orang yang berhak oleh syariat ini untuk nikah, ditambah lagi apabila ia dikhawatirkan akan jatuh pada perzinahan karena pergaulan yang sudah terlalu jauh, pokoknya cuma nikah satu-satunya jalan ia selamat. Nah orang yang seperti ini wajib untuk menikah dan tidak ada penundaan lagi. Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Mungkin kalau sekarang itu yaa seperti para pesohor (artis) itu yang sering muncul di televisi, kemana-mana gandengan dengan non-mahram padahal bukan istrinya, kenapa tidak dihalalkan saja? Lalu hukum yang kedua yaitu Sunnah.

Tidak sampai diwajibkan untuk menikah, mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif. Orang yang memiliki kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, tapi kategori hukumnya sudah masuk sunnah muakkad .

Tapi akan menjadi sangat baik sekali kalau dia segera menikah. Karena bagaimanapun menyegerakan ibadah adalah suatu yang dianjurkan. Dan itu lebih baik daripada dia terus menyendiri. Bukankah nikah itu menyempurnakan setengah agama? Adapun hukum yang ketiga yaitu Haram.

Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya.

Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Termasuk juga kalau dia ingin menikah dengan wanita yang telah bersuami, atau malah ingin menikahi wanita yang merupakan mahromnya, entah itu karena keturunan atau sesusuan. Hukum yang keempat adalah Makruh.

Orang yang tidak memiliki penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah (status hukum makruh). Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. Lalu hukum yang kelima adalah Mubah.

Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya.

Nah karena memang hukum nikah itu sendiri bermacam-macam sesuai kondisi si orangnya itu, maka tidak boleh kita mengenalisir satu hukum nikah untuk semua orang, karena setiap orang berbeda kondisinya dengan yang lain. Dan layaknya lah kita harus bijak. Memang terkadang kita pernah menemukan orang yang sangat gigih supaya orang-orang terdekat atau anggota (suatu kelompok) di bawahnya itu untuk menikah, seakan-akan menikah adalah suatu kewajiban untuk semua orang. Menikah jadi hukum pokok buat dia, pokoknya nikah.

Padahal tidak bisa mengeneralisir seperti itu, kondisi masing-masing orang berbeda-beda. Pun Rasul dalam haditsnya, memerintahkan menikah untuk mereka yang sudah mampu, kalau belum mampu nikah yang puasa jalan keluarnya. Jadi tidak ada pokoknya nikah di syariat ini, semua sudah diatur dan memang ada aturannya. Jangan akhirnya kita mewajibkan perkara yang pada dasarnya bukan wajib, wah itu mengada-ada namanya.

Orang yang sedang menempuh belajar (kuliah) atau malah baru lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah, tidak bisa dipaksa menikah. Mereka tidak punya kemampuan finansial untuk itu, padahal kemampuan finansial adalah syarat nikah yang bisa jadi wajib. Dan juga ternyata syahwatnya Alhamdulillah masih terjaga dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang agamis dan relegius.

Akan menjadi dilema bagi dia, mengikuti orang tua yang menginginkan ia pulang dengan gelar akademis, atau ikut dengan teman atau ketua kelompoknya yang sama sekali tidak pernah melahirkannya, tidak menyusuinya, tidak merawatnya sejak kecil, tidak memberikannya finansial, tidak juga selalu peduli dengannya. Berbeda dengan orangtua yang sampai kapanpun, cintanya tidak akan luntur. Dan sudah pasti orang tua menginginkan yang terbaik buat anak tersayangnya itu. Orang yang masih mengekor kepada orang tua bukan termasuk orang yang dikatakan mampu untuk menikah.

Walaupun memang kalau dia menikah yaa tidak ada keburukan disitu, malah sempurna setengah agamanya. Memang dalam wajibnya nikah itu kondisi seseorang berada dalam taraf Al-Tawaqon. Keadaan dimana seseorang sudah sangat besar syahwatnya, namun ia tidak punya jalur kemana harus menyalurkan itu kecuali dengan menikah. Kalau tidak dengan menikah pastilah kemungkinan perzinahan sangat mungkin terjadi.

Apabila ada seorang pemuda yang memang dalam lingkungan baik dan kondusif, aktivitasnya berkutat pada buku dan diktat kuliah, lalu pulang pergi masjid karena aktif sebagai pemuda masjid, kurang masuk akal kalau dikatakan khawatir jatuh pada perzinahan.

Semua orang tidak layak dilabeli khawatir jatuh pada perzinahan, label ini diberikan kepada mereka yang sangat dekat sekali dengan praktek perzinahan. Namun lebih parah lagi kalau malah kita menggenalisir kepada semua orang bahwa hukum nikah itu tidak wajib, atau sunnah, atau malah mubah. Kita harus lihat dulu siapa yang kita ajak bicara tentang nikah ini. Jadi harusnya memang kita lebih bijak dalam syariat ini, harus bisa melihat kondisi siapa dan bagaimana.

Editor : Eko Suprapto

Berita Lainnya
Jumat, 3 Februari 2017, 11:04

Strategi Pembinaan SDM dalam Pelayanan Catin di KUA Kecamatan

Selasa, 31 Januari 2017, 14:38

Shadaqah Sebagai Alternatif Penyelesaian Masalah

Selasa, 4 Oktober 2016, 12:50

GELAR HAJI DAN KETELADANAN SOSIAL

Rabu, 14 September 2016, 21:56

MENGAWAL GENERASI MEMERANGI NARKOBA

Rabu, 14 September 2016, 20:40

Quran Cetak 3 Ulu yang Bersejarah