Jumat, 17 Februari 2017, 16:08

Penguatan Peran Subbag Inmas Kemenag dalam Menyikapi Wacana/issu yang Muncul Melalui Media Online

Oleh : Husnul Khotimah*

saat ini informasi atau berita online sudah menjadi konsumsi publik. Hal ini seiring dengan perkembangan teknologi dan alat komunikasi yang serba canggih seperti smartphone sejenis android. Dapat dipastikan masyarakat Indonesia yang semula sebagai pembaca berita di media cetak, saat ini bergeser menjadi konsumen media online.

Menjamurnya domain yang menyajikan berita online membuat boomerang pemerintah. Bagaimana tidak, komunikasi masyarakat menanggapi persoalan yang diangkat oleh media-media online menjadi viral di media sosial. Bahkan hal ini dijadikan sandaran oleh pembaca sebagai sumber dan pola berfikir untuk mempengaruhi masyarakat lainnya.

Sesungguhnya peran media sudah penulis sadari dapat memberikan efek besar untuk masyarakat. Bahasa yang biasa dipakai di tengah masyarakat bahwa media dapat membangun image seseorang atau kelompok tertentu. Oleh sebab itu, efek baik atau buruk pasti dapat melekat dalam diri pembaca. Wajar, jika berita hoax (bohong, red) pun dapat dipercaya (mendapat image baik) oleh pembaca.

Subbag Informasi dan Humas (Inmas) Kanwil Kemenag Sumsel yang memiliki bidang kerja mengelolah website sumsel.kemenag.go.id merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap admin dan masyarakat Kementerian Agama di 109 satuan kerja di wilayah Sumatera Selatan serta masyarakat secara umum untuk menolak dan membentengi dari berita-berita hoax ini. Dalam forum rapat kerja pengelolah teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang digelar oleh Inmas Kanwil Kemenag Sumsel, Kamis-Jum'at (16-17/2), filter dalam mengkonsumsi berita online sangat diperlukan saat ini. Baik secara personal maupun secara lembaga.

Filter secara personal, setiap admin wajib melakukan verifikasi berita yang tersebar di media social, apakah berita ini bersumber dari media terpercaya? Artinya berita atau informasi itu hoax atau bukan. Secara lembaga, pihak Subbag Inmas melalui tim pengelolah websitenya sudah menyiapkan diri untuk menerapkan kerja pengelolaan website, baik surel ataupun media social dengan standar Sistem Manajemen Keamaan Informasi yang sesuai dengan standar SNI 27001. Setidaknya, ada 12 formulir data, surat ataupun berita yang harus diisi sebagai control terhadap tingkat validitas informasi yang akhirnya akan diterbitkan melalui website atau media social oleh seorang admin website. Dengan demikian, informasi yang disampaikan melalui media online ini dapat dipertanggungjawabkan sumber dan keasliannya atau dengan kata lain bukan merupakan informasi atau berita hoax.

Tidak sampai disitu, kegiatan memfilter sumber berita online apakah media yang menyampaikan berita tersebut hoax atau bukan menjadi sedikit persoalan. Dengan berbagai kepentingan seperti kepentingan politik atau kelompok social tertentu, jumlah media online yang beredar di media social pun sungguh sangat banyak dengan berbagai nama domain. Muncul pertanyaan, bagaimana pembaca dapat menilai bahwa sebuah media online ini merupakan media yang dapat dipercaya dengan memberikan informasi yang berimbang dan mengedepankan independen pers yang sesungguhnya.

Belum lagi media yang mengatasnamakan agama, lebih-lebih agama Islam yang akhir-akhir ini wacana/issu yang muncul dan viral di tengah masyarakat justru bersumber dari media social. Banyak sekali nama-nama domain yang berlebel islam, namun menyajikan informasi dengan berbagai pemahaman yang berbeda. Seiring dengan domain yang menyampaikan syariat Islam yang bersumber AL-Quran dan Hadist dengan tujuan mengajak pembaca memahami Islam sebagai rahmatan lil aalamiin, banyak juga domain yang secara terang-terangan mengajak dan membentuk gaya berfikir pembaca kearah yang radikal, kekirian, rasis dll. Dengan berbagai cara memberikan pembaca kamuflase (membuat domain yang mirip dengan domain agama yang sesuai ajarannya) yang mereka munculkan untuk menggiring pengikut kepada ajaran/aliran tertentu.

Menyikapi hal ini Kementerian agama melalui Subbag Inmas menjadi salah satu lembaga yang tepat untuk menengahi bahkan memberikan jalan terang dengan mencerdaskan admin-admin website-nya melalui diskusi serta rekomendasi media-media apa saja yang dapat menjadi rujukan informasi untuk disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat. Baik secara online maupun offline. Hal ini penting sebagai salah satu referensi untuk penyambung lidah kepada masyarakat kementerian agama di masing-masing Satker. Karena bukan tidak mungkin seperti di madrasah, para siswa tidak memahami mana media online yang dapat dipercaya dan mana media yang suka menyebar hoax. Untuk itu mereka harus diberikan daftar nama-nama media yang dimaksud. Hal ini belajar dari stigma yang ditimpakan kepada salah satu media elektronik nasional yang viral di media social dijuluki sebagai media pembohong dan berpihak kepada kelompok tertentu.

Sebagai salah satu contoh, sebagai admin muslim, setidaknya, kita juga patut mempelajari bagaimana sesungguhnya kita dapat menjadi seorang jurnalis islami. Yang dapat menyampaikan informasi keislaman (ajaran islam) sesuai dengan sumber aslinya (Al-Quran dan Hadist). Kalaupun tidak bisa demiakian, setidaknya kita meyakini bahwa sumber informasi tentang ajaran Islam yang kita peroleh berasal dari laman website yang terpercaya, dan selanjutnya dapat menjadi sumber informasi yang dapat kita sebarluaskan. Jangan sampai, kita sebagai seorang jurnalis muslim sendiri tidak mengetahui apakah sumber tersebut dapat dipercaya atau tidak karena ketidaktahuan kita terhadap ajaran Islam itu sendiri. Bahkan penulis pernah mengalami ketika membaca sebuah laman yang ternyata dibuat oleh aliran tertentu untuk mengelabui umat islam menjadi pengikut aliran tersebut. Berdasarkan pengalaman inilah penulis menilai, penting pernyataan sikap kita kepada media-media (cetak maupun elektronik) yang ada di Sumsel khususnya dan Indonesia umumnya.

Pada prinsipnya, 9 elemen jurnalistik yang dipegang oleh insan pers tidak bertentangan dengan prinsip ilmu komunikasi dalam Islam. Yaitu menyampaikan kebenaran, disiplin verivikasi, independensi, control social, menjadi media public, relevan, komprehensif dan professional dan sesuai hati nurani. Bahkan ada salah seorang praktisi pers berani menulis sebuah buku yang berjudul Fikih jurnalistik. Buku ini ditulis oleh mantan praktisi pers tahun 2009 lalu. Penulis menilai hal ini menjadi motivasi bagi jurnalis muslim agar dapat bekerja sesuai etika jurnalistik serta dapat bernilai ibadah disisi Allah. Penulis meyakini hal ini tentu sejalan dengan tema yang diangkat dalam rapat kerja pengelolah TIK kemarin Kemenag Sumsel Menolak penyebaran Hoax.

Dalam buku ini juga dipaparkan bahwa jurnalistik Islam sudah eksis sejak tradisi Iqro diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. Begitupula etika-etikanya yang berkembang melalui contoh-contoh kasus pada masa nabi dulu. Misalnya aturan berghibah, hukum menghina nabi dan istri nabi, hokum menghina agama, hokum menghina pemimpin yang kesemuanya diatur dalam Islam.

Menyikapi persoalan yang ada terutama ranah agama yang mungkin terkotak-kotak akibat kepentingan tertentu, maka penulis memandang perlu adanya forum untuk membicarakan, membedah wilayah kerja jurnalistik dan sikap keberagamaan kita agar tujuan dari informasi yang kita berikan atau dapatkan dari sumber lain sesuai dengan tujuan kita sebagai khalifah fil ard yang memiliki tanggung jawab di dunia dan di akhirat.

Salah satunya mengajak duduk bersama antara lembaga agama seperti MUI yang memiliki tim komisi informasi dan komunikasi, tokoh agama, KOminfo, organisasi pers seperti PWI, AJI, dewan pers, serta admin website sumsel.kemenag untuk bersepakat dan dengan kesadaran menjalankan prinsip dan etika jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Bila perlu mendaftar nama-nama dan menyatakan sikap membalcklist secara social untuk media-media yang tidak mengedepankan prinsip dan etika jurnalistik. Sebaliknya juga, mendaftar media-media yang menerapkan prinsip dan etika jurnalistik sebagai media yang direkomendasikan, terutama bagi warga Kementerian agama di wilayah provinsi Sumatera Selatan.(*)

*Admin website sumsel.kemenag dan mantan penggiatpers.

Berita Lainnya
Jumat, 6 Januari 2017, 09:56

Sudahkah Guru Sebagai Penuntun dan Tontonan Baik Bagi Siswanya

Minggu, 25 Desember 2016, 17:29

Menumbuhkan Kesadaran "Stop Pungli"

Minggu, 11 Desember 2016, 09:41

Berlaku Bijak di Media Sosial

Kamis, 8 Desember 2016, 06:48

Pendidikan Madrasah Sebagai Acuhan dan Pondasi dalam Pembinaan Akhlak Siswa

Senin, 5 Desember 2016, 07:19

Rengkarnasi Anak Singkong Melahirkan Anak Digital