Rabu, 8 Februari 2017, 08:50

Menikahi Wanita Yang Hamil Duluan, Haramkah?

Oleh : Abdul Rahman, M.H.I (Penghulu KUA Kec. Lubuklinggau Selatan I)

Terjadi diskusi kecil-kecilan selepas makan siang di Kantor, antara saya dan seorang pegawai yang kebetulan ia masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Agama Islam di Kota Lubuklinggau. Ia menanyakan prihal bagaimana hukumnya menikahi seorang wanita yang hamil duluan. Selama ini banyak kejadian anak remaja hamil di luar nikah kemudian langsung dinikahkan oleh keluarganya hanya untuk menutupi aibnya. Dan yang mengenaskan pria yang dinikahinya bukanlah orang yang menghamilinya.

Saya pun mencoba menjawabnya, dan tentunya jawaban yang saya tuturkan ini berasal dari beberapa literatur yang pernah saya baca. Memang pergaulan di kalangan remaja dan anak muda sekarang sudah sangat mengkhawatirkan. Tidak sedikit di antara mereka yang terjebak dalam pergaulan bebas sehingga tidak heran jika banyak remaja yang masih usia belia telah menikah disebabkan hamil duluan hasil dari perbuatan zina.

Kalau kita berbicara mengenai bagaimana status hukum seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang sedang mengandung anak dari orang lain maka hukumnya jelas haram. Karena hal itu akan mengakibatkan rancunya nasab anak tersebut. Dalilnya adalah beberapa nash berikut ini: Nabi SAW bersabda, Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim) Nabi SAW bersabda, Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. (HR Abu Daud dan Tirmizy)

Adapun bila wanita yang hamil itu dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya di luar nikah, maka umumnya para ulama membolehkannya, dengan beberapa varisasi detail pendapat:

Pertama Pendapat Imam Abu Hanifah yang menjelaskan bahwa bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh menggaulinya hingga melahirkan.

Kedua Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh menikahi wanita yang hamil. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa 'iddahnya. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Jika belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih boleh menikah dengan siapa pun. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253.

Ketiga Pendapat Imam Asy-Syafi'i yang menerangkan bahwa baik laki-laki yang menghamili atau pun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya.

Adapun Dalam Kompilasi Hukum Islam dengan instruksi presiden RI no. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI No. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut:

1. Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.

2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.

3. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Semua pendapat yang menghalalkan wanita hamil di luar nikah dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya, berangkat dari beberapa nash berikut ini : Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Isteriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR Abu Daud dan An-Nasa`i) Begitulah kira-kira jawaban yang saya ketahui. Dan tentunya berdasarkan dari beberapa literatur yang saya baca. Mudah-mudahan saja dapat dipahami. Ungkap saya kepada si dia. Ia pun mengangguk tanda mengerti.

Editor : Eko Suprapto

Berita Lainnya
Jumat, 3 Februari 2017, 11:04

Strategi Pembinaan SDM dalam Pelayanan Catin di KUA Kecamatan

Selasa, 31 Januari 2017, 14:38

Shadaqah Sebagai Alternatif Penyelesaian Masalah

Selasa, 4 Oktober 2016, 12:50

GELAR HAJI DAN KETELADANAN SOSIAL

Rabu, 14 September 2016, 21:56

MENGAWAL GENERASI MEMERANGI NARKOBA

Rabu, 14 September 2016, 20:40

Quran Cetak 3 Ulu yang Bersejarah