Palembang (Kemenag Sumsel) ---
Suasana tenang dan khusyuk menyelimuti Musala Al-Ikhlas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan pada Senin (23/2/2026). Bakda salat zuhur berjamaah, para pegawai tidak langsung beranjak. Mereka tampak antusias menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Kanwil Kemenag Sumsel, Taufiq.
Dalam bimbingan rohani kali ini, Kabag TU membawakan sebuah narasi yang menggetarkan hati: Kisah detik-detik akhir hayat seorang sahabat Nabi bernama Sya'ban RA. Sosok yang dikenal tidak pernah absen dari saf pertama salat berjamaah ini meninggalkan pelajaran besar tentang makna "memberi yang terbaik".
Dalam tausiyahnya, Taufiq menceritakan bahwa saat sakaratul maut menjemput, Sya'ban RA sempat berteriak dalam tiga kalimat yang membuat istrinya heran: "Aduh, kenapa tidak lebih jauh! Aduh, kenapa tidak yang baru! Aduh, kenapa tidak semuanya!"
“Sya’ban RA tidak menyesali dosanya, melainkan menyesali amalnya yang dianggapnya belum maksimal saat Allah memperlihatkan ganjaran surga di depan matanya,” urai Kabag TU di hadapan jemaah.
Ia merinci makna di balik teriakan tersebut:
- "Kenapa tidak lebih jauh": Penyesalan Sya'ban mengapa jarak rumah ke masjid tidak lebih jauh lagi, karena ia melihat setiap langkah kakinya ke masjid berbuah pahala yang luar biasa.
- "Kenapa tidak yang baru": Penyesalan saat ia memberikan baju dingin yang lama kepada seorang pengemis. Saat melihat pahalanya, ia menyesal mengapa tidak memberikan baju yang masih baru.
- "Kenapa tidak semuanya": Penyesalan karena ia hanya memberikan separuh roti kepada orang yang kelaparan. Ia membayangkan jika ia memberikan seluruh roti itu, tentu derajatnya di surga akan jauh lebih tinggi.
Mengaitkan kisah tersebut dengan etos kerja, Kabag TU berpesan agar seluruh jajaran pegawai Kanwil Kemenag Sumsel tidak terjebak dalam rutinitas yang ala kadarnya.
“Kisah Sahabat Sya’ban mengajar kita tentang totalitas. Jangan sampai kelak di akhirat kita menyesal karena hanya memberikan 'sisa' waktu, 'sisa' tenaga, atau 'sisa' harta untuk pengabdian dan ibadah. Mari kita berikan yang terbaik dalam melayani umat, seolah-olah itu adalah amal terakhir kita,” tegasnya.
Kegiatan tausiyah rutin ini merupakan bagian dari upaya Kanwil Kemenag Sumsel untuk terus menyiram rohani para pegawai di tengah kesibukan administrasi. Dengan hati yang tercerahkan oleh kisah-kisah teladan, diharapkan integritas dan keikhlasan dalam bekerja dapat terus terjaga.
Tausiyah ditutup dengan doa bersama, diiringi harapan agar setiap langkah kaki menuju kantor dan setiap pelayanan yang diberikan, bernilai pahala yang sempurna di sisi Allah SWT, tanpa ada penyesalan di kemudian hari. (Humas Kemenag Sumsel)